Jumat, 25 Februari 2011

Hitam Putih #2


HITAM PUTIH
by : eNOErReM ‘11



Sudah lewat purnama ke-39 sejak ibuku meninggalkan aku, ayahku dan seorang adik laki-laki kecilku di gubuk tua warisan ini. Malam itu, malam terakhir kali kami melihat tangisannya. Tangisan sesosok wanita tegar yang telah dengan setia menemani hari-hariku selama 9 tahun terakhir. Sesosok wanita yang dengan teramat sangat berat meninggalkan kami sambil menyeret kopor butut pemberiaan pamanku itu. Sesosok wanita yang rela berjauhan dengan kami, buah hati tercintanya hanya untuk mempertaruhkan nasib menghidupi keluarga dari negeri minyak sana. Dia adalah ibuku, ibu terbaik dalam hidupku. Orang yang pertama kali kulihat saat terbangun dari mimpi burukku, orang terakhir yang kulihat saat ku hendak memejamkan mata memasuki dunia imajiku. Yang tak pernah lupa mendengungkan shalawat untuk sekadar menidurkanku dan Lana, adikku saat kami kecil dulu.

Maulana Yusuf, adikku akan berusia 5 tahun 3 hari lagi, sementara aku baru duduk di kelas 7 SMP. Itu berarti, umurku baru menginjak tahun ke-12. Setiap malam sejak sebulan lalu, kami berdua selalu kompak terduduk di teras depan rumah kami, memandang jauh ke arah ujung jalan sana, berharap ada langkah perindu yang bergegas menuju ke arah kami sambil melepaskan pegangan dari kopor-kopornya. Ya, kami berdua tengah menanti kedatangan ibu kami yang kemungkinan akan tiba bulan-bulan ini. Tapi, sudah berhari-hari kami menunggu tanpa ada kabar. Ayah kami pun hanya bungkam tiap kali kami menanyakan pertanyaan kapan ibu pulang. Mungkin ia sudah bosan dengan pertanyaan-pertanyan yang sama yang kami lontarkan selama sebulan ini. Dan belakangan, aku pun mengerti. Hanya Lana yang tetap terus mengoceh dan berulangkali hanya ditanggapi dingin oleh ayah.

Semenjak telepon terakhir dari ibu pada awal Januari lalu, tiba-tiba ayah menjadi pemurung. Entah apa yang terjadi. Aku pun tidak tahu apa yang ibu dan ayah bicarakan melalui telepon singkat 4 menit itu. Beliau hanya mengatakan, ibu akan pulang dan setelah itu gairah hidupnya mulai meluntur. Ayah yang selalu senang dan berbunga-bunga ketika selesai menerima telepon dari ibu, kini hanya terdiam. Tatapannya kosong, seperti tengah tidak berada di tempatnya. Bukankah seharusnya beliau bahagia, karena ibu akan pulang setelah hampir 3 tahun mengadu nasib di tanah nabi. Aku pun tidak tahu kenapa.

Bayang-bayang pertemuan dengan ibu kami tercinta perlahan mulai memudar seiring telah berlalunya hari demi hari tanpa kabar berita, bahkan hanya sekadar kabar telepon pun tidak ada. Besok, adalah tepat hari ulangtahun ke-13 ku. Semoga ibu telah merencanakan untuk pulang esok hari, memberikan kejutan terindah di hari bahagiaku besok. Aku sudah tidak sabar. Terakhir kali saat ulangtahunku, ibu memberikan kejutan dengan membelikanku sebuah pulpen hijau yang terbungkus dalam lembaran kertas koran usang. Dan aku teramat bahagia saat itu, bukan karena hadiahnya. Karena memang hadiah itu tidak begitu seberapa dibandingkan perhatian ibuku itu. Sampai sekarang, pulpen ini masih kusimpan dengan baik di atas meja belajarku tanpa pernah sekalipun kugunakan.

Selepas menidurkan Lana, aku kembali bangkit dari ranjang reotku. Ketika ku hendak mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat ‘isya, samar-samar kudengar suara ayahku tengah bertelepon dengan seseorang. Nada bicaranya serius dan agak khawatir. Sedikit kukuping pembicaraan mereka yang walaupun tidak begitu jelas, tapi ada satu kata yang kudengar yang membuatku sumringah. “Besok”. Mungkin itu maksudnya adalah kepulangan ibu, dan yang ada di balik telepon itu adalah ibu. Dengan perasaan senang bercampur rindu segera kuberlari menuju belakang rumah dan memopakan air untukku berwudhu dan bersegera menunaikan shalat ‘isya.

Tepat tanggal 26 Desember 2004, tepat saat hari ulangtahunku yang ke-13, ibu benar-benar pulang. Ternyata perkataan ayah di telepon semalam memang benar adanya. Tapi, tidak ada rasa senang seperti yang kurasakan semalam. Bayangan kejutan ulangtahun terbaik itu telah hilang. Kupeluk erat tubuh kecil Lana, adikku satu-satunya. Kucoba menahan tangis saat 6 orang laki-laki tetanggaku itu menurunkan sebuah kotak kayu cendana yang ditutupi kain berwarna putih. Kucoba menahan tangisku, tapi sebagai seorang perempuan, aku tidak sanggup menerima kenyataan ini. Ini bukan hari ulangtahun terbaikku, tetapi hari ulangtahun terkelamku sampai saat ini. Ibuku telah pulang, bukan hanya sekadar pulang ke bumi kelahirannya, tetapi juga pulang keharibaan sang penguasa hidup. Ya, ibuku telah meninggal dalam perjuangannya menghidupi keluarga kami dari negeri orang. Ayah menghampiriku, berusaha menghapus air mataku yang secara tidak sadar telah membanjiri kedua pipiku. Beliau memelukku dan Lana sambil tak kuasa menahan air mata dari pelupuk matanya.

Sebenarnya, ayah sudah mengetahui kabar duka ini sejak telepon terakhir dari ibuku dulu. Rupanya, itu adalah kata-kata perpisahan ibuku untuk ayah. Ayah tidak berani mengatakan kabar itu kepada kami. Ibuku didakwa telah dengan sengaja membunuh majikannya, dan ia dijatuhi hukuman mati. Ayah sengaja merahasiakannya agar kami tidak merasa begitu bersedih, karena ia tahu kami begitu merindukan sosok ibu kami. Tapi justru, ketika jasad ibuku yang sudah tak bernyawa lagi kini tiba-tiba ada di hadapanku, aku semakin terpukul. Seolah-olah, matahri di langit sana menimpaku, telak. Sampai-sampai aku tidak bisa bernafas, sesak.

Untuk terakhir kalinya, aku ingin melihat wajah ibuku tapi ayah melarangnya. Itu akan membuatku semakin bersedih, dan Lana yang belum mengerti apa-apa juga akan terkena imbasnya. Akhirnya, sembari membawa selembar foto ibuku, kuhantarkan ia menuju peristirahatan terakhirnya. Tanpa mampu menopang berat tubuhku, aku terkulai lemas di samping pusara ibuku. Semuanya gelap. Aku tak sadarkan diri.

Sepertinya lama sekali aku pingsan, sampai tengah malam aku baru bisa membuka mataku. Kudapati kerumunan orang tengah melantunkan ayat-ayat surat Yaasiin di ruang depan rumahku, pun begitu dengan ayahku yang tengah mendekap erat Lana yang sedang tertidur. Air mataku meleleh, mencoba menerjemahkan keadaan ini. Aku tak kuasa, aku berlari menerobos kerumunan orang yang tengah duduk bersila. Semua terperanjat dan berusaha mengejarku, tapi ayah menghentikan mereka. Ayah membiarkanku.

Aku berlari dan terus berlari tanpa henti, hingga sampai pada sebuah persimpangan. Di tempat inilah terakhir kali kulihat wajah ibuku. Aku merindukannya, aku rindu ada dalam dekapannya, ibu. Aku terduduk bersimpuh di jalanan tanah lempung. Ku terdiam, sendiri menengadahkan wajahku pada kemintang yang gemerlap. Berbicara pada mereka dan berteriak pada Tuhan. Hanya untaian doa yang bisa kupanjatkan pada sang maha tahu, semoga itu bisa menghantarkan jiwa suci ibuku pada tempat yag terbaik di sisi-Nya, di singgsana surga. Amin. (NM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar